34 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Paper AssetAnda pasti tahu bahwa mata uang memiliki nilai. Tetapi, jangan pernah berpikir hanya mata uang saja yang memiliki nilai karena aset pun demikian. Ya, aset memiliki nilai ekonomis. Lalu apa sebenarnya yang di maksud dengan sebuah aset?

Sebuah aset adalah segala sesuatu yang memiliki nilai. Sebuah aset dapat bersifat Tangible (dapat dilihat) atau Intangible (tidak dapat dilihat).

Tangible aset adalah sesuatu yang dapat anda lihat, seperti misalnya Rumah, Mobil, Emas/Logam Mulia, atau Tanah.

Intangible aset adalah sesuatu yang tidak dapat anda lihat, seperti misalnya bakat, kemampuan dan pengalaman seseorang, dalam konteks ini, hidup manusia juga merupakan sumber aset. Dan asuransi bertujuan untuk melindungi nilai ekonomis dari aset-aset tersebut.

“Miliki lah sebuah Produk Asuransi Jiwa untuk perlindungan Intangibel Asset”

“Miliki lah sebuah Produk Asuransi Sakit Kritis untuk perlindungan Tangibel Asset”

Kerusakan Aset

Tetapi aset-aset ini mungkin dapat hancur atau tidak dapat digunakan lagi karena sebuah kecelakaan atau sebuah kejadian yang tidak disengaja. Kecelakaan atau sebuah kejadian yang tidak disengaja ini disebut musibah. Kebakaran, banjir, gempa bumi, longsor, sakit, wabah penyakit, kematian dan lain-lain merupakan contoh musibah.

Kerusakan atau kehancuran yang mungkin dapat disebabkan oleh musibah-musibah tersebut adalah resiko yang dimiliki oleh aset. Risiko disini, berarti adanya kemungkinan atau ketidakpastian kerugian atau kehancuran yang dihadapi oleh aset tersebut.

Hidup Manusia Adalah Aset Yang Paling Berharga

Hidup manusia merupakan sebuah aset yang dapat mendatangkan pendapatan. Aset ini juga mengahadapi resiko seperti kematian, sakit dan cacat yang diakibatkan oleh kecelakaan.

Resiko seperti cacat dan kematian membuat seseorang tidak mampu memperoleh penghasilan. Hal ini mengakibatkan pihak-pihak yang bergantung kepadanya (misalnya keluarga) mengalami kesulitan.

Pada konsep asuransi jiwa terbaru dan termodern pada saat ini Paper Asset banyak diminati dan menjadi sangat populer dibandingkan dengan kita membeli sebuah properti yang bertujuan untuk warisan, cara seperti ternyata lebih efektif dan lebih jauh efisien apabila kita menggunakan cara tradisional, cara tradisional ini sudah ditinggalkan dan orang – orang sudah berbondong – bondong memiliki paper asset

Dalam artikel ini nanti kita akan buktikan dan kita kupas tuntas perbandingan apabila anda menyiapkan warisan menggunakan cara konvensional asset dengan cara tradisonal asset.

  • CARA TRADISIONAL ASSET

– Down Payment Asset 30%

– BPHTB Yaitu 5% X Luas Tanah X NJOP

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah biaya atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan.

Hak atas tanah adalah hak atas tanah termasuk hak pengelolaan, berserta bangunan di atasnya sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Undang-undang Nomor 16 tentang Rumah Susun dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang lainnya.

Dasar pengenaan atas bea perolehan hak atas tanah dan bangunan dari nilai perolehan objek pajak dengan besaran tarif sebesar 5% dari nilai perolehan objek pajak. Pada awalnya, BPHTB dipungut oleh pemerintah pusat, tetapi sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD), mulai 1 Januari 2011, BPHTB dialihkan menjadi pajak daerah yang dipungut oleh pemerintah kabupaten/kota

– Bunga KPR 12% Pertahun Tenor 10 Tahun

– BBN Yaitu Luas Tanah X Nilai Zona Tanah / 1000 + Biaya Paket